Wednesday, 20 August 2014

Cerita Anak: Kejujuran Jati

JUJUR.kerenJati mengusap peluh yang bercucuran di dahinya. Setelah satu jam lamanya ia berkeliling komplek perumahan untuk menawarkan barang dagangannya, ia berhasil mengumpulkan beberapa lembar rupiah. Sudah tiga hari ini, Jati berjuang keras untuk mengisi liburan sekolahnya dengan berjualan susu kedelai buatan ibunya. Ia berkeliling komplek perumahan yang tak jauh dari kampungnya. Ia belum akan kembali ke rumah sebelum semua dagangannya laku terjual.. sekilas terbayang raut muka memelas wajah Asih, adik satu-satunya.
Jati memang ingin mengumpulkan uang sekedar untuk membelikan obat adiknya, yang kini terbaring lemah tak berdaya. Hanya itu yang bisa dilakukan Jati, mengingat Ayahnya yang bekerja sebagai buruh serabutan tak mampu membawa Asih ke Dokter apalagi Rumah Sakit. Pernah suatu ketika Asih dibawa ke Rumah Sakit karena penyakit radang paru-paru yang dideritanya. Namun, belum sampai tuntas pengobatannya Asih harus segera dibawa pulang karena tak kuat menanggung biaya Rumah Sakit yang begitu mahalnya.
” Alhamdulillah, daganganku laris hari ini. Susu kedelai buatan Ibu memang luar biasa ” Gumam Jati, setelah itu ia menghitung lembaran rupiah yang berhasil ia kumpulkan hari ini. ” Dua puluh ribu, Yess! Itu artinya aku masih bisa menyisihkan uang untuk membeli obat buat Asih. Sabar ya dik, Aku akan senantiasa berdo’a dan berusaha untuk kesembuhanmu. Supaya kita bisa kembali bermain, belajar, mengaji abatatsa di Mushala, Ustadz Ahmad pun tentu sudah kangen dengan celotehmu yang lugu dan lucu “

Jati terus berjalan menyusuri komplek perumahan menuju rumahnya. ” ini adalah hari yang menyenangkan bagiku, susu kedelai buatan ibu terjual habis. Sore nanti aku akan kembali berkeliling, menjajakan minuman kesehatan buatan ibuku tersayang. Dan siang ini aku masih bisa bermain layang-layang bersama Sufyan. Sungguh liburan yang paling menyenangkan “
Ditengah-tengah perjalanan menuju kampungnya, kaki Jati menyampar sebuah dompet. “Ups,.. dompet siapa ini?” tanya Jati keheranan. Dengan gemetar ia membuka isinya. “Masyaallah, uang??!!” Jati semakin terperanjat kaget karena bisa dipastikan ia tak pernah memegang atau memiliki uang sebanyak ini. Kepala Jati menoleh kanan dan kiri, tak ditemuinya seorang pun. Keringat panas dingin mendadak bercucuran dari dahi Jati. “ah… aku tak pernah memegang uang sebanyak ini” gumamnya. “lalu milik siapa ini?!”. Buru-buru jati menyimpan dalam plastik hitam yang ia bawa. bergegas ia berlari menuju rumahnya hendak bercerita kepada Ibunya.

 

Di sepanjang perjalanan, Jati terus membayangkan seandainya ia punya uang sebanyak ini tentu ia dan keluarganya tak perlu bersusah payah bekerja demi kesembuhan Asih. Pikirannya berbisik, “Ambillah uang itu, toh tidak ada yang tahu kalau kamu menemukan uang itu. Tak usah dikembalikan kepada pemiliknya. Pasti ia orang kaya dan bisa dengan mudah mencari uang lagi. Sedangkan kamu, waktu liburan saja kau gunakan untuk berkeliling komplek perumahan demi selembar uang dua puluh ribuan. Ayo ambillah”. Batin Jati terus bergejolak mendadak Jati segera beristighfar. “Astaghfirullah, mengapa aku memiliki pikiran sepicik ini. Bukankah uang ini bukan milikku, meski aku yang menemukannya dan tak seorangpun tahu “. semakin keras Jati ayunkan langkah menuju rumahnya.

“Assalamu’alaikum” ucap Jati ketika memasuki gubuk tuanya. “Wa’alaikum salam” jawab Ibunya. “Bu, Ibu, aku menemukan ini bu” ucap jati kepada Ibunya, yang tengah berdiri membukakan pintu. “Kenapa tho Le, koq teriak-teriak dan kamu terlihat pucat sekali” jawab Ibunya. “Aku menemukan dompet bu” ungkap Jati. “Dimana?” tanya Ibu dengan nada keheranan. “Di komplek perumahan sepulang aku berjualan bu, dan jumlahnya aku belum sempat menghitung tapi kupikir banyak sekali” Ibu terkejut mendangar cerita Jati. Dengan terengah-engah Jati melanjutkan ceritanya. “aku tidak tahu bu, dompet ini milik siapa. Dan aku belum sempat membuka seluruh isinya, aku takut bu di tengah-tengah seluruh keterbatasan kita, kita menjadi gelap mata dan ingin memiliki yang bukan hak kita. Maka aku bergegas kembali kerumah untuk bercerita kepada Ibu. Ini bu dompetnya.” Jati memberikan bungkusan plastik hitam kepada ibunya.

Ibu sangat terkejut ketika melihat isinya. “Masyaallah, pasti yang punya merasa sangat kehilangan uang ini Le. Coba kamu lihat dan cari identitas atau tanda pengenal dalam dompet itu” sergah Ibu Jati. “baik bu” Jati menimpali. “Ini bu, ada KTP tertera nama dr.Heryawan SpOG alamatnya di Jl. Melati Blok C Nomer 5A Perum Limas. Pasti dompet ini miliknya bu” jawab Jati. “Baiklah mari kita segera kerumahnya, pasti dokter Heryawan sangat kehilangan”.
Bergegas Ibu Jati mematikan kompor di dapurnya. “Air ini sudah mendidih dan nasi sudah tersedia kalau nanti bapakmu pulang dan kita tidak dirumah semua sudah terhidang. Ibu akan menitip pesan kepada Asih biar nanti ia menyampaikan kita sedang kerumah dokter Heryawan”. Tukas Ibu Jati. Dengan sigap ia memberesi seluruh pekerjaan di dapurnya. “Tapi Bu,” Ucap Jati. “kenapa? Apa yang kamu pikirkan Jati?” sergah Ibunya. “kita kan, bisa mengambil beberapa lembar saja dari uang itu, toh pemiliknya juga pasti dengan mudah akan mencarinya lagi, toh pasti ia orang kaya” dengan terbata Jati berucap.
“Istighfar Jati, Allah pasti akan marah jika kita melakukan hal ini. Ingatlah ini bukan milik kita, bukan hak kita, meskipun kita sangat membutuhkannya. Ayolah bergegas kita kerumah pemilik dompet ini, sebelum siang datang menjelang, karena ibu masih harus menyiapkan susu kedelai untuk kamu jual lagi sore ini” Ucap ibunya dengan nada tinggi.
“Astagfirullah, baiklah Bu” Jawab Jati dengan nada penuh sesal.

Jati dan ibunya berjalan menuju komplek perumahan Limas untuk mencari alamat dokter Heryawan. Bukan hal yang sulit bagi Jati dan Ibunya untuk menemukan rumah dokter Heryawan, toh hampir seluruh komplek perumahan ini sudah pernah dijajahi Jati.

“Ini pasti rumahnya bu, dr. Heryawan Jl. Melati Blok C Nomer 5A Perum Limas. Wah bagus sekali rumahnya, asri dan sangat bersih”

“Assalamu’alaikum” Ibu Jati mengucapkan salam. Tak lama kemudian dibukakanlah pintu dan datanglah seorang bapak berkacamata. “Wa’alaikum salam, ada yang bisa saya bantu bu, anda mencari siapa?” tanyanya. “Apakah ini benar rumah dokter Heryawan?” tanya Ibu Jati. “Betul Bu, saya dokter Heryawan, silahkan masuk dan silahkan duduk” jawab dokter Heryawan.
“Terimakasih” Jati dan Ibunya masuk kerumah dokter Heryawan. Mata jati tak henti hentinya memandang kesekeliling ruang tamu dokter Heryawan.

“Begini Pak, Anak saya, Jati pagi tadi ketika pulang dari berjualan menemukan dompet ini Pak, dan didalamnya ada identitas nama bapak dan sejumlah uang yang kami tidak membuka seluruh isinya” ucap ibu Jati memberikan penjelasan kepada dokter itu.
“Oh Iya, Alhamdulillah. Benar bu, saya kehilangan dompet pagi tadi. Isinya identitas saya dan beberapa surat-surat penting. Berarti Nak Jati ini yang menemukan” ungkap dokter Heryawan.
“Betul Pak, tak sengaja sepulang berjualan keliling komplek ini, kaki saya menyampar sesuatu ternyata dompet” ungkap Jati menjelaskan.

“Ini Pak, dompetnya” Ucap ibu Jati sambil menyerahkan bungkusan plastik hitam berisi dompet.
“Iya benar sekali, ini milik saya, Alhamdulillah masih rezeki saya. Isinya juga masih utuh. Terimakasih banyak ya, Nak Jati dan Ibu, berkat nak Jati dompet saya dan surat-surat penting itu masih utuh”. ucap dokter Heryawan dengan nada syukur.
“Sebelumnya, saya boleh tahu Ibu rumahnya dimana? Dan nak Jati berjualan apa keliling komplek ini?” tanya dokter Heryawan.
“Saya sekeluarga tinggal di kampung sebelah pak, tidak jauh dari komplek perumahan ini. Dirumah saya membuat susu kedelai untuk dijual Jati di sekitar komplek ini”. Jawab Ibu Jati

“Baiklah Pak, kami segera pamit” ucap ibu Jati.
“Tunggu sebentar bu” dokter Herywan masuk kedalam dan keluar dengan membawa bungkusan plastik berwarna hitam. “Ini ada sekedar oleh-oleh buat keluarga Ibu dirumah dan ini buat nak Jati” dokter Heryawan menyerahkan bungkusan platik hitam kepada Ibu dan menyerahkan amplop kepada Jati.
“Tak usah repot-repot Pak, ini sudah kewajiban kami” jawab Ibu Jati sambil berpamitan.
“Tidak apa-apa bu, sekedar ucapan terimakasih. Dan saya akan sangat senang jika ibu bersedia menerimanya. Jangan lupa sering-seringlah bertandang kerumah ini.”
“Baiklah Pak, terimakasih kami akan segera berpamitan pulang” jawab Ibu
“Ya bu terimakasih kembali. Tapi sebentar bu, biar saya antarkan pulang” ucap dokter Heryawan.
“Tidak usah Pak, khawatir merepotkan saja. Sekali lagi terimakasih. Rumah kami tidak terlalu jauh koq. Assalamu’alaikum ” bergegas Jati dan Ibunya berpamitan.

Disepanjang perjalanan Jati tak henti-hentinya bersyukur dan berucap terimakasih. Bukan karena lantaran amplop yang ia terima tadi. Tetapi ia lebih bersyukur karena dikaruniai sesosok ibu yang luar biasa. “Terimakasih ya Allah, engkau karuniakan aku seorang ibu yang baik, yang akan terus mendidik, membesarkan dan mengingatkanku ketika salah serta menuntunku dalam menjalani hidup ini” Gumam Jati penuh syukur.

Pekalongan, 30 Juni 2009
Ruang tiga kali empat pukul tiga kurang seperempat.
Umu Sulaim

Related Posts to "Cerita Anak: Kejujuran Jati"

Response on "Cerita Anak: Kejujuran Jati"